Langsung ke konten utama

My Diary...(Part IX)

"Gue yang ngelakuin.."ucap seseorang dengan lantang.
Dan..?!
"Kenapa harus kamu?"tanyaku geram.
"Gue benci harus permainin orang Ci, seumur hidup pun kalau harus mempermainkan orang hidup gue nggak akan tenang, biar aja, biar Nadya mati sekalian."ucap Dan dengan kesal.
"Tapi, dia kan kakak kamu jangan sebodoh itu juga dong Dan, kamu bisa di tangkep polisi."
"Biarin aja gue di tangkep polisi Ci, gue bisa hidup tenang, tanpa kakak gue yang bengis itu."
Sebegitu bencikah kamu pada kakakmu?
"Lagian Nadya bukan kakak kandung gue, wajar kan kalau gue nggak suka, selama ini gue selalu di jadiin kacung nggak pernah di anggap adik."
"Kakak kandung kamu, kemana Dan?"tanyaku lagi.
"Gue nggak tau siapa kakak kandung gue, gue cuma tau namanya nggak pernah tau wujudnya."
Aku menoleh ke arah Laza, Laza hanya diam saja.
"Siapa namanya?"
"Laza Ziera Wijaya Ci, dia kakak kandung gue. Bokap cerai sama nyokap, kakak gue ikut bokap dan gue ikut nyokap, waktu pisah gue masih kecil Ci, ingusan, gue nggak bisa mengingat wajah kakak gue dengan baik."
"Kakak kamu ada di belakangku sekarang."ucapku.
Shock, ternyata mereka kakak beradik? Ya Tuhan.
"Laza, bangun kamu, ini adik kamu."ucapku setengah memaki.
"Aku tau Ci, Dan itu memang adikku, makanya tadi pagi aku menyeringai, dan terlihat gembira, aku tau dia adikku."
Dan terlihat shock juga, melihat Laza yang selama ini mungkin ia mengenalnya. Jelas pasti Dan mengenal Laza, karena dulu ia kan satu sekolah di Paris. Mereka pun beradu pandang.
"Kenapa lo nggak bilang Za kalau lo prduksi Wijaya juga?"tanya Dan.
"Aku ragu Dan kalau kamu itu adikku."
"Emang bokap nggak pernah cerita lo punya adik Za?"
"Papa cerita ke aku, pas aku tau ada namamu di daftar nama adik kelas di Paris, aku mulai mencari tau siapa kamu, tapi kamu..kamu yang tidak pernah buka matamu Dan, ingin menegurmu pun malas rasanya, karena aku melihatmu selalu bersama dengan musuh bebuyutanku, Nadya."
Keheningan hall basket pun di pecahkan oleh dua kakak beradik ini, aku tidak menyangka bahwa mereka adalah saudara kandung.
"Maafin gue Za, gue yang nggak mau tau tentang lo."ucapnya perlahan, "Maafin gue juga Ci, gue ngerusak hubungan lo sama Dio cuma demi Nadya, gue telalu meremhkan lo karena lo nggak cantik, lo cupu, lo nothing. Tapi gue sadar Ci, Nadya itu yang nothing, gue terlalu buta sama semua yang udah Nadya kasih ke gue, bokapnya terlalu kaya raya sehingga nyokap gue pun di butakan juga sama hartanya."
Hening.
"Ya ampuun, lo pada di sini, gue cariin ke mana-mana tau waah kacau, ngapain lo pada? Lagi arisan? kok cuma bertiga?"
Dioooo...uuuhhh
"Diem deh kamu Yo, lagi tegang nih."ucap Laza.
"Laza?! itu Laza?"
"Iya ini aku, masa hantunya aku sih"
Dio memeluk Laza. Oke tahan cemburumu Lucia, mereka hanya berteman baik, sangat baik.
"Yo, kamu sadar nggak?"
"Sadar dong, ya ampun lo sehat ya Za? Alhamdulillah deh."
"Dioooo..!!"teriak Laza.
"Apaan sih? kok pake teriak-teriak segala?"
"Ituu ada Cia, ya ampun, masih nggak sadar juga?!"
"Oh...iya..lupa nggak liat hehehe."
Sebesar ini nggak lihat? matanya itu kemana sih?
Dio menghampiriku."Apa?!"kataku.
"Galak amat non, santai aja kenapa nggak usah secemburu itu juga kali."
Seketika aku sudah di rengkuh dalam dekapannya, Dio...
"Jadi, tolong jelasin sama gue ini ada apaan pada discuss di sini?"
Beberapa menit, kami bertiga hanya saling pandang. setelah itu, Dan yang membuka pembicaraan..
Dan juga yang menceritakan duduk perkaranya dari awal sampai akhir, eh emang ceritanya tadi udah berakhir?
"Parah juga lo ya Dan, bisa-bisanya lo yang nabrak terus lo yang panik, mau nyerahin diri atau mau gue serahin ke polisi?"tanya Dio dengan tegas.
"Jelas gue nyerahin diri lah Yo, yang penting gue udah ketemu sama kakak kandung gue, gue bisa tenang, mati pun gue akan lebih tenang."sahutnya dengan tenang.
"Kamu bilang kamu mau mati?"tanya Laza dengan tatapan yang tidak rela.
"Iya kenapa emangnya?"
"Kamu belum memelukku tau."
Seketika keadaan pun kembali seperti semula, Dan dan Laza sudah menemukan kebahagiaannya, tapi bagaimana dengan Nadya dan bersaing?

*To Be Continued

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU!

Kau berdiri di sisian kemarau, lalu kau tersibak angin. Kemudian Aku melihatmu bagai sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Pandanganmu terlalu baik untuk ku siakan, Senyumanmu berarti ketulusan penuh Dan kini aku terpaku, bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu? bahkan barang sedetik saja.              Sebut saja aku adalah wanita yang sedang di banjur cinta satu bejana malam ini, rasanya bahagia sekali, bahkan untuk setiap detiknya, walaupun nilai ujianku E tetap saja aku bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika sedang jatuh cinta? Yang pasti bukan aku, karena aku terlalu bahagia, sampai terlihat tidak pernah waras dimata manusia lainnya. Oh, bahkan aku tidak dianggap manusia lagi, tatkala senyumku merekah, tapi aku sendirian.                Gila? Ya cinta memang membuat sebagian orang terlihat lebih gila di bandingkan dengan yang gila. Mung...

Sunset in Paris

Berlari kecil terlihat kehilangan lalu senjanya datang tidak banyak yang bisa diceritakan senja saat itu tapi semburat senyumnya masih menyala dan Eiffel masih terlihat nyata langitnya mulai biru tapi senjanya belum hilang senyumnya makin merekah namun Parisnya mulai gelap kemudian terhenyak lalu pulang (Sebuah Interpretasi bebas dari lagu Sungha Jung - Sunset in Paris)

My Diary...(Part III)

Pagi ini aku bangun dengan malas. Setelah shalat subuh, aku ingin merebahkan tubuhku lagi rasanya. Tapi handphone yang bergetar membuatku mengurungkan niatku untuk tidur lagi, uuhh dasar mengganggu saja. Aku membuka pesan singkat yang ada di handphone ku, Dio, ada apa sih dia sms aku pagi-pagi? From: Dio Turun dong, lari pagi yuk biar sehat, hehe. Dio? kerumahku? pagi-pagi? ngapain? aku melongok ke bawah dari jendela kamarku, motornya ada, dari jam berapa dia di sini? lalu, ku balas pesannya. To: Dio Kamu!! lagi-lagi mengganggu ku, aku tidak mau lari pagi ah...malas!! Tak lama kemudian pintu kamarku di ketuk. Paling ibu, batinku. Dengan malas aku berjalan mendekati pintu, perlahan aku memegang k'nop pintunya dan aku mulai membukanya. Aaaaaaaaaaaaa....!! * Hebat!! Dio berhasil meluluhkan hatiku untuk yang kedua kalinya. Aku sedang bersamanya sekarang, lari pagi aah aku ingin menolaknya, tapi kecupannya yang mendarat di dahiku berhasil menghipnotisku, jadilah ak...