Langsung ke konten utama

My Diary...(Part VI)

Jam menunjukan pukul sembilan lebih tiga puluh menit, mataku masih belum bisa terpejam. Bayangkan saja aku harus menurunkan berat badanku sebanyak 3 kilo dalam satu bulan, itu mustahil kan? mana mampu aku melakukannya? hhh. Handphone ku bergetar, mungkin itu Laza? ku raih dan ku timbang dengan benang *loh? hehehe. Aku meraih ponsel ku dan mulai membuka pesannya. Hey Dio yang sms aaaah senangnya.
From: Dio
Genduuut...
Ku balas saja aah, lagian tadi dia kan tidak masuk sekolah.
To: Dio
Apaan panggil aku malam2? tadi kemana? sakit kah?
Tidak sampai lima menit ponsel ku kembali bergetar.
From: Dio
Emang nggak boleh apa? Iaya tadi sakit, knp? kangen? hehehe.
Sayang, kenapa kamu tau aku merindukanmu. uuh
To: Dio
Geer...siapa yang kangen, biasa aja tuh, sakit apa Yo?
Sengaja ah tidak jujur, nanti ketauan naksir beneran lagi hihihi.
From: Dio
Masa? tapi kok hati gue bilang lo kangen sama gue? aaa lagi boong ya? hihihi, meriang Ci, merindukan kasih dan sayang hehehe.
Saat ingin membalasnya, Dio malah menelfonku, memang dia tidak tau apa aku muali menyukainya? Pasti grogi nih aah gawat.ket: A:aku D: Dio
A: Ha..Halo?
D: Nah kan grogi, kangen sama gue kan? Ngaku..
Ketauan deh huh.
A: iya kangen.
D: Apaan? Nggak jelas Ci.
A: Iya, aku kangen sama kamu. Puas?
Diooo, kalau boleh aku menciummu...aaah Ciaa apaan sih kamu ini.
D: Sama dong aku juga kangen sama kamu, kok nggak jengukin sih?
A: Dio, kamu jangan meledekku dong, sejak kapan kamu jadi pake aku dan kamu saat bicara.
D: Emang nggak boleh?
A: Nggak !!
D: Widih, galak amat, eh Cia jawab gue kenapa lo nggak jenguk?
Mati aku, tadi aku memang ada niat menjenguk Dio, karena terlalu sibuk main curang jadi terlewat.
A: Maaf ya, tadi ada tugas kelompok, mau jenguk kesorean.
D: Turun dong Ci.
A: Hah? Turun kemana?
D: Kebawah sini, temenin gue, masa gue sakit nggak di temenin hehehe.
Aku lari tunggang langgang menuju ruang tamu, ya ampun Dio ngapain ke sini kan kamu lagi sakit iih bandel banget sih.
"Lama banget sih turunnya, ngapain aja di atas?"
"Hmm...aku....hmm...a..aku.."
Aduuh, kenapa begini sih, ayolah Lucia jangan jadi panik begini. Dio sih pake acara pelukan segala aarrggh.
"Ci, lo sakit juga?"
Iyaaa aku sakit Dio, sakiit kalau kamu sakit...kenapa sih aku ini, kenapa sih aduuh.
"Yaudah lo istirahat deh, gue anterin sampe kamar."
"JANGAN !!"
Aduhh, panik lagi.
"Kenapa Ci?"
"Aku bisa sendiri kok Yo, kamu pulang aja."
"Ci..."
"A..."
Terputus, kali ini aku benar-benar kecolongan, dia...hmm Dio maksudku, dia mencium bibirku, aaaah yang benar saja.
"Tidur sana lo, udah malem hehe, gue balik ya...sayang hehe."
Apa katanya? Sayang?
"I..iya...hati-hati ya dadah."ucapku grogi uuhh, sebal.
Dio, sukses membuatku tidak bisa tidur, terimakasih banyak ya sayang, aku makin merindukanmu.

*To Be Continued ;)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU!

Kau berdiri di sisian kemarau, lalu kau tersibak angin. Kemudian Aku melihatmu bagai sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Pandanganmu terlalu baik untuk ku siakan, Senyumanmu berarti ketulusan penuh Dan kini aku terpaku, bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu? bahkan barang sedetik saja.              Sebut saja aku adalah wanita yang sedang di banjur cinta satu bejana malam ini, rasanya bahagia sekali, bahkan untuk setiap detiknya, walaupun nilai ujianku E tetap saja aku bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika sedang jatuh cinta? Yang pasti bukan aku, karena aku terlalu bahagia, sampai terlihat tidak pernah waras dimata manusia lainnya. Oh, bahkan aku tidak dianggap manusia lagi, tatkala senyumku merekah, tapi aku sendirian.                Gila? Ya cinta memang membuat sebagian orang terlihat lebih gila di bandingkan dengan yang gila. Mung...

Sunset in Paris

Berlari kecil terlihat kehilangan lalu senjanya datang tidak banyak yang bisa diceritakan senja saat itu tapi semburat senyumnya masih menyala dan Eiffel masih terlihat nyata langitnya mulai biru tapi senjanya belum hilang senyumnya makin merekah namun Parisnya mulai gelap kemudian terhenyak lalu pulang (Sebuah Interpretasi bebas dari lagu Sungha Jung - Sunset in Paris)

My Diary...(Part III)

Pagi ini aku bangun dengan malas. Setelah shalat subuh, aku ingin merebahkan tubuhku lagi rasanya. Tapi handphone yang bergetar membuatku mengurungkan niatku untuk tidur lagi, uuhh dasar mengganggu saja. Aku membuka pesan singkat yang ada di handphone ku, Dio, ada apa sih dia sms aku pagi-pagi? From: Dio Turun dong, lari pagi yuk biar sehat, hehe. Dio? kerumahku? pagi-pagi? ngapain? aku melongok ke bawah dari jendela kamarku, motornya ada, dari jam berapa dia di sini? lalu, ku balas pesannya. To: Dio Kamu!! lagi-lagi mengganggu ku, aku tidak mau lari pagi ah...malas!! Tak lama kemudian pintu kamarku di ketuk. Paling ibu, batinku. Dengan malas aku berjalan mendekati pintu, perlahan aku memegang k'nop pintunya dan aku mulai membukanya. Aaaaaaaaaaaaa....!! * Hebat!! Dio berhasil meluluhkan hatiku untuk yang kedua kalinya. Aku sedang bersamanya sekarang, lari pagi aah aku ingin menolaknya, tapi kecupannya yang mendarat di dahiku berhasil menghipnotisku, jadilah ak...