Langsung ke konten utama

My Diary...(Part VII)

Pagi ini Laza menyeringai padaku, aku tanya kenapa ia malah tidak menjawab apa-apa malah ia makin terbahak, aneh.
Aku masuk ke dalam kelas seperti biasa, Dio belum datang kelas juga masih sangat sepi. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari lorong depan kelas ku, kalau itu teman ku, aku tidak akan mencurigainya lagi pula aku tau kok langkah kaki manusia baik-baik dengan langkah kaki maling. Bayangannya sudah sampai depan pintu. Aku mulai berjalan mendekati pintu kelasku dan aku menemukan Dan di sana, kenapa dia?
"Daniel?"
Napasnya terdengar terengah-engah, dia ini kenapa sih?
"Ka..kamu kenapa?"tanyaku, begini-begini juga aku orangnya khawatiran loo, "Yaudah tenang dulu, kamu tarik napas dulu ya dalam-dalam, baru cerita."ucapku.
Tiba-tiba saja Dan duduk di lantai, tanpa sadar aku juga ikut duduk, padahal kan aku tau dia itu punya maksud jahat padaku, harusnya aku mencurigainya bukan malah bersimpati aah payahnya aku. Tapi hati nurani ku tidak tega membiarkannya sendiri di sini.
"Nadya..."
"Nadya...kenapa Nadya?"
"Kecelakaan Ci, tadi pagi ketabrak mobil."
Apaa?!
"Kamu jangan main-main Dan."ucapku tak percaya.
"Beneran gue nggak bohong Ci."
Tunggu, kenapa Dan malah membuka penyamarannya? sebelumnya aku kan nggak tau kalau dia itu adiknya Nadya.
"Kamu, kenal sama Nadya?"tanyaku perlahan.
Dan terlihat panik, apa barusan dia keceplosan ya?
"Nadya, hmm...temen gue maksudnya..i..iya Nadya temen gue."
Oh iya yang namanya Nadya kan banyak. Tiba-tiba Dio  datang menghampiri kami.
"Dan, Nadya kecelakaan dimana?"tanyanya panik.
Nah kan benar, Nadya yang Dan maksud ya Nadya kakaknya, ternyata Dio kenal Dan juga?
"Kak Dio?"ucapnya kaget.
Bodoh benar si Dan ini, dia itu sedang apa sih? kok malah membuka kedoknya sendiri.
"Nadya sekarang di rumah sakit mana? Ceroboh banget sih itu anak kok bisa tabrakan."
Aku perhatikan wajah Dan, makin lama makin pucat pasi.
"Gue haru spergi kak, nanti...gue kabarin lagi."
Dan pun berlalu meninggalkan kami. Benar-benar bodoh, seperti itu di bilang pasangan biang onar? Bermain peran puntak mampu, bagaimana sih sutradaranya?
"Kamu tau kabar Nadya dari mana Yo?"tanyaku penasaran.
"Nyokapnya telfon ke ponsel gue, jangan cemburu ya hehe."
Dio ini masih sempat-sempatnya bilang begitu.
"Kenapa nggak kamu tanya aja sama mamanya Nadya, kali aja mamanya lebih tau rumah sakit mana Nadya di rawat, nanti kita jenguk sama-sama."ucapku
"Waah lo baik hati banget ya Ci, padahal lo di jadiin saingannya dia, tapi lo mau repot-repot jenguk dia."
"Kita kan sesama manusia, harus saling menyayangi dong, masa gara-gara kita saingan aku dendam gitu sama dia? nggaklah..eh.."
Kok Dio tau aku saingan? Waaah gawat, aku keceplosan juga lagi.
"Saingannya apaan Ci? gue boleh tau nggak? hehe"
"Nggak...nggak ada saingan apa-apa kok Yo, beneran."
Aduuhhh...
"Hahaha Cia...Cia gitu aja masih mau bohong lo sama gue."
*
Dan yang secara nggak sengaja bilang sama aku kalau Nadya kecelakaan, aku sih tau kalau Nadya yang ia maksud adalah Nadya saingan ku, aku prihatin...sangat prihatin, tapi Dan begitu bodoh dan ceroboh, ketauan deh sama aku kalau ia bersekongkol sama Nadya untuk main curang, walaupun aku sudah tau sebelumnya karena menguping sore itu. Dan aku, aku kepancing sama Dio, apa jangan-jangan Dio emang tau dari awal ya kalau aku saingan sama Nadya?
Kesimpulannya adalah Tuhan maha adil. Belum aku melakasanakan 'main curang' ku yang ku rencanakan dengan Laza, tapi Dan dengan tidak sengaja (mungkin) membongkar kedoknya sendiri. Apa yang akan terjadi selanjutnya padaku? Haaahh...

*To Be Continued


Curhat dikit: Part ini yang paling sulit, masalahnya gue lagi mandek berat tadi siang, tapi Alhamdulillah berkat doa temen2 sekalian, part ini selesai semoga suka ya, bilang kalo nggak nyambung nanti gue bikin ulang partnya . Terimakasih :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAU!

Kau berdiri di sisian kemarau, lalu kau tersibak angin. Kemudian Aku melihatmu bagai sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Pandanganmu terlalu baik untuk ku siakan, Senyumanmu berarti ketulusan penuh Dan kini aku terpaku, bagaimana bisa aku meninggalkan dirimu? bahkan barang sedetik saja.              Sebut saja aku adalah wanita yang sedang di banjur cinta satu bejana malam ini, rasanya bahagia sekali, bahkan untuk setiap detiknya, walaupun nilai ujianku E tetap saja aku bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika sedang jatuh cinta? Yang pasti bukan aku, karena aku terlalu bahagia, sampai terlihat tidak pernah waras dimata manusia lainnya. Oh, bahkan aku tidak dianggap manusia lagi, tatkala senyumku merekah, tapi aku sendirian.                Gila? Ya cinta memang membuat sebagian orang terlihat lebih gila di bandingkan dengan yang gila. Mung...

Sunset in Paris

Berlari kecil terlihat kehilangan lalu senjanya datang tidak banyak yang bisa diceritakan senja saat itu tapi semburat senyumnya masih menyala dan Eiffel masih terlihat nyata langitnya mulai biru tapi senjanya belum hilang senyumnya makin merekah namun Parisnya mulai gelap kemudian terhenyak lalu pulang (Sebuah Interpretasi bebas dari lagu Sungha Jung - Sunset in Paris)

My Diary...(Part III)

Pagi ini aku bangun dengan malas. Setelah shalat subuh, aku ingin merebahkan tubuhku lagi rasanya. Tapi handphone yang bergetar membuatku mengurungkan niatku untuk tidur lagi, uuhh dasar mengganggu saja. Aku membuka pesan singkat yang ada di handphone ku, Dio, ada apa sih dia sms aku pagi-pagi? From: Dio Turun dong, lari pagi yuk biar sehat, hehe. Dio? kerumahku? pagi-pagi? ngapain? aku melongok ke bawah dari jendela kamarku, motornya ada, dari jam berapa dia di sini? lalu, ku balas pesannya. To: Dio Kamu!! lagi-lagi mengganggu ku, aku tidak mau lari pagi ah...malas!! Tak lama kemudian pintu kamarku di ketuk. Paling ibu, batinku. Dengan malas aku berjalan mendekati pintu, perlahan aku memegang k'nop pintunya dan aku mulai membukanya. Aaaaaaaaaaaaa....!! * Hebat!! Dio berhasil meluluhkan hatiku untuk yang kedua kalinya. Aku sedang bersamanya sekarang, lari pagi aah aku ingin menolaknya, tapi kecupannya yang mendarat di dahiku berhasil menghipnotisku, jadilah ak...